Pemprov kaltim Menggelar Apel Bersama dan Aksi Bersih Sampah

Kamis, 5 Juni 2025 70
Sekretariat DPRD kaltim mengikuti Apel Pagi dan Aksi Bersih Sampah dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (5/6/2025).

SAMARINDA . Dalam upaya meningkatkan kesadaran dan aksi nyata terhadap permasalahan lingkungan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menggelar Apel bersama dan Aksi Bersih Sampah, Kamis, (5/6/2025), yang dilaksanakan di Islamic Center Samarinda, dan Stadion Gelora Kadrie Oening, Sempaja.  

 

Kegiatan ini merupakan tindaklanjut dari arahan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI dalam rangka peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025, yang tahun ini mengusung tema "Hentikan Polusi Plastik". Apel pagi dan Aksi Bersih Sampah dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025 dipimpin oleh Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, di dampingi Sekretaris Daerah Kaltim, Sri Wahyuni, serta beberapa kepala OPD Provinsi Kaltim. 

 

Turut hadir perwakilan Sekretariat DPRD Kaltim, yaitu Kabag Fasilitasi Penganggaran dan Pengawasan, Andi Razaq, dan sejumlah pejabat fungsional di lingkungan sekretariat DPRD Kaltim. Kegiatan ini juga melibatkan lebih dari 60 instansi dan organisasi, termasuk OPD, mahasiswa, siswa, komunitas lingkungan, dan masyarakat umum. Para peserta melaksanakan aksi bersih sampah, di lanjutkan dengan penimbangan sampah bernilai ekonomi sebagai bagian dari ekonomi sirkular.

 

Sementara itu, di Stadion Gelora Kadrie Oening, Sempaja, turut hadir dalam aksi bersih sampah oleh perwakilan Sekretariat DPRD Kaltim yakni Kabag Persidangan dan Perundang-undangan, Suriansyah, Kabag Umum dan Keuangan Hardiyanto, serta pejabat fungsional. Pemprov Kaltim berharap kegiatan ini semakin meningkatkan kesadaran masyarakat akan pengelolaan sampah, mendorong pengurangan polusi plastik, dan memperkuat komitmen bersama dalam menjaga lingkungan bersih dan sehat bagi generasi mendatang. (hms)

TULIS KOMENTAR ANDA
Soroti Kredit Rp 820 Miliar Bankaltimtara ke Pemkab Kukar, DPRD Kaltim Tekankan Penguatan Regulasi dan Mitigasi Risiko
Berita Utama 30 Maret 2026
0
SAMARINDA – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Timur menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) guna membedah pemberian fasilitas kredit senilai Rp 820 miliar dari PT Bank Pembangunan Daerah Kaltim-Kaltara (Bankaltimtara) kepada Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Pertemuan yang berlangsung di Ruang Rapat Gedung E Kantor DPRD Kaltim, Senin (30/3/26), tersebut menyoroti tajam aspek regulasi serta potensi risiko gagal bayar (default) yang dikhawatirkan dapat berdampak pada postur APBD dan stabilitas kesehatan bank. Rapat dipimpin oleh Wakil Ketua I DPRD Kaltim Ekti Imanuel didampingi Ketua DPRD Kaltim Hasanuddin Mas’ud, Wakil Ketua II Ananda Emira Moeis, serta sejumlah anggota DPRD lainnya seperti Selamat Ari Wibowo, Firnadi Ikhsan, Didik Agung Eko Wahono, Guntur, Sapto Setyo Pramono, dan Muhammad Husni Fahruddin. Pertemuan ini juga menghadirkan pihak eksekutif dan lembaga pengawas, di antaranya Kejaksaan Tinggi Kaltim, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kaltim, BPK RI Perwakilan Kaltim, BPKP Kaltim, Inspektorat, Biro Hukum Setda Prov.Kaltim, Asisten Perekonomian Setda Prov.Kaltim, serta Direktur Utama Bankaltimtara. Membuka jalannya pembahasan, Wakil Ketua I DPRD Kaltim, Ekti Imanuel, menegaskan bahwa DPRD memiliki mandat konstitusional untuk menjalankan pengawasan secara ketat. Ia menyatakan bahwa lembaga legislatif akan mengambil langkah sesuai kewenangan guna memastikan pemberian kredit tersebut selaras dengan aturan yang berlaku. "Langkah ini merupakan bentuk pertanggungjawaban moral dan administratif kami kepada seluruh masyarakat Kalimantan Timur," tegas Ekti saat memimpin jalannya rapat. Senada dengan hal tersebut, Ketua DPRD Kaltim, Hasanuddin Mas’ud, mempertanyakan kepatuhan prosedur dalam pencairan kredit senilai Rp 820 miliar tersebut. Poin krusial yang menjadi atensi utama adalah ketiadaan persetujuan dari DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara dalam proses peminjaman. "Kami mendalami sisi regulasinya, mengingat adanya informasi bahwa pinjaman ini tidak melalui mekanisme persetujuan DPRD Kukar atau sidang paripurna, melainkan hanya melalui persetujuan kepala daerah. Kami ingin memastikan legalitas prosedur ini secara hukum," ujar sosok yang akrab disapa Hamas tersebut. Hasanuddin juga menyatakan kekhawatirannya terkait jangka waktu pengembalian dana. Menurutnya, jika pinjaman dikategorikan sebagai pengelolaan kas untuk biaya operasional seperti pembayaran listrik, air, atau Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) maka kewajiban tersebut idealnya harus tuntas dalam satu tahun anggaran berjalan. Dengan pencairan yang dilakukan pada Maret 2026, muncul urgensi untuk memastikan apakah pelunasan dana hampir Rp 1 triliun tersebut mampu dirampungkan dalam kurun waktu sembilan bulan ke depan. "Jika terjadi gagal bayar, dampaknya adalah potensi tergerusnya APBD untuk dana talangan. Ini adalah uang rakyat Kaltim yang dikelola bank daerah. Kami harus memastikan tidak ada celah pembiaran yang berujung pada kerugian negara," tambahnya. Melalui RDP ini, DPRD Kaltim menekankan bahwa sebagai institusi yang bergerak di bidang kepercayaan, Bankaltimtara wajib menjaga kredibilitas dengan menerapkan prinsip Good Corporate Governance (GCG). Proses pemberian kredit harus merujuk sepenuhnya pada regulasi perbankan serta memperhatikan masukan teknis dari OJK Kaltim, BPK RI Kaltim, BPKP Kaltim, hingga Biro Hukum Setda Provinsi Kaltim. Guna memitigasi risiko, DPRD Kaltim meminta Bankaltimtara untuk segera melakukan perbaikan dan melengkapi dokumen administratif sesuai arahan lembaga pengawas dan Kejaksaan Tinggi Kaltim. DPRD Kaltim juga memandang perlu adanya koordinasi lanjutan dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara untuk memastikan aspek jaminan atas risiko pinjaman tersebut. Ke depan, langkah pengawasan akan diperluas melalui rencana konsultasi ke Kementerian Dalam Negeri guna memverifikasi prosedur persyaratan peminjaman daerah bagi kabupaten/kota lainnya. Lebih lanjut, DPRD Kaltim akan mengevaluasi secara total rencana penyertaan modal bagi Bankaltimtara di masa mendatang, apabila ditemukan indikasi kerugian yang disebabkan oleh kebijakan peminjaman dana daerah. (Hms11)