Sejarah DPRD

Senin, 12 April 2021 7046
Sejarah Singkat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) baru terbentuk pada tanggal 1 Januari 1957. Patokan yang dipakai adalah sejak tahun baru 1957 itulah pertama kali terisi adanya pemimpin pemerintahan provinsi, yakni mantan Residen A.P.T. Pranoto telah menduduki atau diangkat menjadi penjabat Gubernur, dengan istilah Acting Gubernur.

Tanggal 12 Januari 1957, semestinya menjadi tonggak penting bagi perjalanan kehidupan pemerintahan berhaluan demokrasi di Kaltim. Hari itu, Menteri Dalam Negeri Mr. Soenarjo, sampai harus datang ke Samarinda. Itulah saat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), salah satu perangkat sekaligus symbol sejarah demokrasi dalam pemerintahan Provinsi ini. Pada tanggal tersebut, sebanyak 30 tokoh perwakilan partai politik dilantik Mendagri menjadi wakil rakyat Provinsi Kaltim yang pertama kali. Mereka dilantik tiga hari setelah peresmian status Provinsi Kaltim pada 9 Januari 1957. Masa ini adalah masa pemerintahan pusat mempraktikkan sistem parlementer, dimana kepala pemerintahan dijabat Perdana Menteri. Pembentukan Provinsi dan DPRD Kaltim pertama ini berlangsung pada masa pemerintahan Kabinet Ali Sastroamidjojo II.

Sistem rekrut menanggota DPRD masa ini boleh dikata amat sederhana. Tanpa harus menjadi Calon Anggota Legislatif atau Caleg seperti halnya pada pemilu sekarang. Cara penetapan keanggotaannya merujuk hasil Pemilihan Umum (Pemilu) dua tahun sebelumnya. Dari Pemilu pertama di Indonesia pada tahun 1955, diketahui misalnya berapa perolehan suara Partai Nasional Indonesia (PNI) dan seterusnya. Dari perolehan suara partai hasil Pemilu 1955 itu, maka dapat diperoleh patokan untuk menentukan suatu partai dapat berapa kursi di DPRD Peralihan Provinsi Kaltim. Pimpinan partai kemudian menetukan kader-kadernya untuk diusulkan menjadi anggota DPRD. Sebutan panjang DPRD pada masa ini adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Peralihan Daerah Swatantra Tingkat I Kalimantan Timur. Tapi lebih popular dengan istilah DPRD Peralihan.

Pimpinan Dewan Propinsi Kaltim pertama ada dua kursi. Tokoh PNI Azis Samad, terpilih sebagai Ketua DPRD Kaltim pertama kali. Ia didampingi wakil ketua Basri Mochtar dari NU. pada bulan Februari 1958 sudah digelar pemilihan anggota DPRD di seluruh Indonesia, baik untuk Daerah Swatantra I (Provinsi) maupun Daerah Swatantra II (Kabupaten). Usia DPRD Kaltim periode pertama berakhir pada bulan Juni 1958.
Patung Bung Karno Sangasanga Diresmikan, Ananda Emira Moeis: Semangat Kebangsaan Terus Hidup
Berita Utama 27 Januari 2026
0
KUKAR. Wakil Ketua DPRD Prov. Kaltim, Ananda Emira Moeis, bersama sejumlah anggota DPRD Prov. Kaltim menghadiri peresmian Patung Ir. Soekarno sekaligus Kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kecamatan Sangasanga, Selasa (27/01/2026). Peresmian ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan hadir sebagai penanda penting dalam merawat ingatan kolektif bangsa atas Peristiwa Merah Putih Sangasanga—sebuah babak sejarah perjuangan yang mengakar kuat di tanah Kalimantan Timur. Acara peresmian berlangsung khidmat dan sarat makna, disambut antusias oleh masyarakat. Sejumlah tokoh nasional dan daerah turut hadir, di antaranya tokoh masyarakat Kutai Kartanegara Edi Damansyah, perwakilan keluarga besar Bung Karno Djarot Saiful Hidayat, unsur Forkopimcam, perwakilan PT Pertamina Sangasanga, anggota DPRD, tokoh adat dan masyarakat, serta warga Sangasanga yang memadati kawasan peresmian. Patung Bung Karno yang kini berdiri megah di Sangasanga tercatat sebagai patung Ir. Soekarno tertinggi pertama yang dibangun di luar Pulau Jawa. Keberadaannya menjadi simbol kuat bahwa api nasionalisme dan semangat kebangsaan tidak mengenal batas geografis. Kepalan tangan yang tegas serta sorot mata yang menatap jauh ke depan merepresentasikan sosok Soekarno sebagai orator ulung, pemimpin revolusioner, sekaligus pemikir besar yang melahirkan Pancasila—ide fundamental yang mempersatukan bangsa dalam keberagaman. Wakil Ketua DPRD Prov. Kaltim Ananda Emira Moeis menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara atas inisiatif, komitmen, dan keberanian dalam membangun serta meresmikan Patung Bung Karno di Sangasanga. Ia mengungkapkan kekagumannya terhadap karya tersebut, yang dinilainya sebagai salah satu patung terbaik yang pernah ia saksikan.“Peresmian Patung Bung Karno dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Sangasanga ini merupakan momentum penting bagi masyarakat, sekaligus bentuk penghormatan terhadap sejarah perjuangan bangsa di Sangasanga,” katanya. Menurut Nanda, sapaan akrabnya, Patung Bung Karno tidak hanya hadir sebagai monumen fisik, melainkan juga sebagai medium edukasi sejarah yang hidup, terutama bagi generasi muda. Monumen ini, lanjutnya, diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran historis sekaligus memperkuat jati diri kebangsaan. “Dengan adanya patung Bung Karno ini, kita didorong untuk lebih mempelajari sejarah, agar kita tidak melupakan sejarah, terutama sejarah perjuangan bangsa dan perjuangan Bung Karno dalam memerdekakan Republik ini,” tegasnya. Lebih jauh, Nanda berharap kawasan Patung Bung Karno dan RTH Sangasanga dapat berkembang menjadi ruang publik yang dinamis—bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga ruang belajar, berekspresi, dan bertukar gagasan. Kawasan ini diharapkan menjadi wadah tumbuhnya kreativitas dan kesadaran budaya di kalangan generasi muda. “Ini bisa menjadi media bagi anak-anak muda untuk belajar sejarah, berdiskusi, menggelar pentas seni, dan membangkitkan budaya, sehingga kita memiliki kepribadian dalam kebudayaan seperti yang dicita-citakan Bung Karno,” pungkasnya. (hms7)