Legislator Kaltim Hadiri Musrenbang Tenggarong Seberang , Akomodir 500 Lebih Usulan Masyarakat

Selasa, 10 Februari 2026 21
Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur, Didik Agung Eko Wahono dan Sarkowi V Zahry, menghadiri Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Tenggarong Seberang yang digelar dalam rangka penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2027
KUKAR - Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur, Didik Agung Eko Wahono dan Sarkowi V Zahry, menghadiri Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Tenggarong Seberang yang digelar dalam rangka penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2027, Selasa (10/2/2026). 

Musrenbang bertema “Pemerataan Transformasi Pembangunan Berbasis Kewilayahan” ini dipimpin oleh Camat Tenggarong Seberang, Sukono, serta dihadiri perwakilan OPD Kukar, unsur Polsek, Danramil, dan kepala desa se-Kecamatan Tenggarong Seberang.  

Dalam kesempatan tersebut, Didik Agung Eko Wahono menyampaikan bahwa total terdapat 506 usulan pembangunan dari masyarakat. Dari jumlah tersebut, 300 usulan masuk pada bidang Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman.  “Pembangunan infrastruktur masih mendominasi usulan masyarakat Tenggarong Seberang,” jelas Didik Agung.  

Ia menegaskan bahwa Musrenbang harus selaras dengan program-program pemerintah pusat agar setiap program pembangunan dapat berjalan efektif dan efisien.  “Jadi terarah dan terukur mulai dari pusat sampai daerah agar program pembangunan bisa maksimal,” terangnya.  

Sementara itu, Sarkowi V Zahry menekankan pentingnya pendampingan perangkat daerah dalam penyusunan proposal aspirasi masyarakat.  “Contoh, pembuatan proposal pengajuan usulan masyarakat, masih ada yang mengeluhkan bentuk proposal yang benar seperti apa, ini harus didampingi,” katanya.  

Sarkowi menjelaskan bahwa setiap usulan akan dievaluasi dan dipilah sesuai kewenangan. Jalan antar desa dan drainase desa, misalnya, merupakan kewenangan kabupaten/kota. Namun, provinsi tetap memiliki kewenangan melalui bantuan keuangan ke daerah yang diharapkan mampu menjawab persoalan masyarakat.  

Ia menambahkan bahwa seluruh usulan masyarakat akan diperjuangkan, namun keterbatasan anggaran membuat pemerintah harus melakukan pemilahan secara bertahap dengan pola skala prioritas.  “Usulan masyarakat akan diperjuangkan, hanya saja dikarenakan keterbatasan anggaran, pemerintah akan memilah usulan secara bertahap dengan pola skala prioritas,” ujarnya. (hms4) 
TULIS KOMENTAR ANDA
Soroti Kredit Rp 820 Miliar Bankaltimtara ke Pemkab Kukar, DPRD Kaltim Tekankan Penguatan Regulasi dan Mitigasi Risiko
Berita Utama 30 Maret 2026
0
SAMARINDA – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Timur menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) guna membedah pemberian fasilitas kredit senilai Rp 820 miliar dari PT Bank Pembangunan Daerah Kaltim-Kaltara (Bankaltimtara) kepada Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Pertemuan yang berlangsung di Ruang Rapat Gedung E Kantor DPRD Kaltim, Senin (30/3/26), tersebut menyoroti tajam aspek regulasi serta potensi risiko gagal bayar (default) yang dikhawatirkan dapat berdampak pada postur APBD dan stabilitas kesehatan bank. Rapat dipimpin oleh Wakil Ketua I DPRD Kaltim Ekti Imanuel didampingi Ketua DPRD Kaltim Hasanuddin Mas’ud, Wakil Ketua II Ananda Emira Moeis, serta sejumlah anggota DPRD lainnya seperti Selamat Ari Wibowo, Firnadi Ikhsan, Didik Agung Eko Wahono, Guntur, Sapto Setyo Pramono, dan Muhammad Husni Fahruddin. Pertemuan ini juga menghadirkan pihak eksekutif dan lembaga pengawas, di antaranya Kejaksaan Tinggi Kaltim, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kaltim, BPK RI Perwakilan Kaltim, BPKP Kaltim, Inspektorat, Biro Hukum Setda Prov.Kaltim, Asisten Perekonomian Setda Prov.Kaltim, serta Direktur Utama Bankaltimtara. Membuka jalannya pembahasan, Wakil Ketua I DPRD Kaltim, Ekti Imanuel, menegaskan bahwa DPRD memiliki mandat konstitusional untuk menjalankan pengawasan secara ketat. Ia menyatakan bahwa lembaga legislatif akan mengambil langkah sesuai kewenangan guna memastikan pemberian kredit tersebut selaras dengan aturan yang berlaku. "Langkah ini merupakan bentuk pertanggungjawaban moral dan administratif kami kepada seluruh masyarakat Kalimantan Timur," tegas Ekti saat memimpin jalannya rapat. Senada dengan hal tersebut, Ketua DPRD Kaltim, Hasanuddin Mas’ud, mempertanyakan kepatuhan prosedur dalam pencairan kredit senilai Rp 820 miliar tersebut. Poin krusial yang menjadi atensi utama adalah ketiadaan persetujuan dari DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara dalam proses peminjaman. "Kami mendalami sisi regulasinya, mengingat adanya informasi bahwa pinjaman ini tidak melalui mekanisme persetujuan DPRD Kukar atau sidang paripurna, melainkan hanya melalui persetujuan kepala daerah. Kami ingin memastikan legalitas prosedur ini secara hukum," ujar sosok yang akrab disapa Hamas tersebut. Hasanuddin juga menyatakan kekhawatirannya terkait jangka waktu pengembalian dana. Menurutnya, jika pinjaman dikategorikan sebagai pengelolaan kas untuk biaya operasional seperti pembayaran listrik, air, atau Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) maka kewajiban tersebut idealnya harus tuntas dalam satu tahun anggaran berjalan. Dengan pencairan yang dilakukan pada Maret 2026, muncul urgensi untuk memastikan apakah pelunasan dana hampir Rp 1 triliun tersebut mampu dirampungkan dalam kurun waktu sembilan bulan ke depan. "Jika terjadi gagal bayar, dampaknya adalah potensi tergerusnya APBD untuk dana talangan. Ini adalah uang rakyat Kaltim yang dikelola bank daerah. Kami harus memastikan tidak ada celah pembiaran yang berujung pada kerugian negara," tambahnya. Melalui RDP ini, DPRD Kaltim menekankan bahwa sebagai institusi yang bergerak di bidang kepercayaan, Bankaltimtara wajib menjaga kredibilitas dengan menerapkan prinsip Good Corporate Governance (GCG). Proses pemberian kredit harus merujuk sepenuhnya pada regulasi perbankan serta memperhatikan masukan teknis dari OJK Kaltim, BPK RI Kaltim, BPKP Kaltim, hingga Biro Hukum Setda Provinsi Kaltim. Guna memitigasi risiko, DPRD Kaltim meminta Bankaltimtara untuk segera melakukan perbaikan dan melengkapi dokumen administratif sesuai arahan lembaga pengawas dan Kejaksaan Tinggi Kaltim. DPRD Kaltim juga memandang perlu adanya koordinasi lanjutan dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara untuk memastikan aspek jaminan atas risiko pinjaman tersebut. Ke depan, langkah pengawasan akan diperluas melalui rencana konsultasi ke Kementerian Dalam Negeri guna memverifikasi prosedur persyaratan peminjaman daerah bagi kabupaten/kota lainnya. Lebih lanjut, DPRD Kaltim akan mengevaluasi secara total rencana penyertaan modal bagi Bankaltimtara di masa mendatang, apabila ditemukan indikasi kerugian yang disebabkan oleh kebijakan peminjaman dana daerah. (Hms11)